custom writing help
News Archives - Page 165 of 239 - Manggala OnlineManggala Online | Page 165

Gianyar (Manggala)-Ubud Royal Weekend merupakan even untuk menapilkan apa yang dimiliki Ubud yang selama ini terselenggara dan menjadi daya tarik wisata. Melalui Ubud Royal Weekend kekayaan yang dimiliki Ubud itu disajikan, seperti menata pas di atas meja sehingga bisa terlihat utuh dan bisa menjadi daya tarik pariwisata.

Ubud Royal Weekend kali ini sudah yang ke-5, mengambil tema, “Kebudayaan, Kepariwisataan dan Kewirausahaan”  Panglingsir PurI Ubud, Tjokorda Gde Putra Sukawati, di Puri Lukisan Ubud, Jumat(19/7) mengatakan, Ubud dengan warisan budaya yang ada, telah mampu menjadi daya tarik pariwisata. Budaya yang ada telah memperkuat Ubud sebagai daerah tujuan wisata yang patut diperhitungkan.

Dengan aktifitas budaya masyarakat itu, telah melahirkan taksu Ubud menjadi daerah kunjungan wisata yang selalu bertengger di papan atas kunjungan wisata dunia. “Budaya adalah daya tarik pariwisata Ubud. Walau, tanpa pariwisata pun budaya akan selalu hidup di masyarakat,” katanya.

Menurut Tjok Putra, Budaya masyarakat menjadi daya tarik kepariwisataan Ubud bukan karena masyarakat Ubud yang “menjual” budaya warisan sebagai produk wisata. Namun, adanya niat baik dari para pelaku wisata menjadikan budaya untuk menarik wisatawa berkunjung ke Ubud. Karena mereka meyakini, dengan aktifitas budaya itu Ubud menjadi daerah kunjungan wisata yang memiliki kekuatan magis(metaksu), sehingga dengan kondisi apapun Ubud akan selalu dikunjungi wisatawan. “Itulah keunikan Ubud,” ujarnya.

Ubud Royal Weekend, ingin menunjukkan Ubud seutuhnya. Ubud sebagai panggung, masyarakat Ubud sebagai aktornya. Munculnya Ubud sebagai daerah tujuan wisata memberikan potensi ekonomi bagi masyarakatnya. Dengan demikian masyarakat Ubud akan masyarakat Ubud akan lebih kuat dalam melakukan aktifitas budaya yang selanjutnya akan menghidupkan kepariwisataan Ubud itu sendiri secara berkelanjutan.

“Inilah pentingnya kewirausahaan. Kewirausahaan akan memperkuat masyarakat dalam melestarikan budaya,” katanya. Hubungan antara budaya, kepariwisataan dan kewirausahaan inilah ingin dipersentasikan dalam Ubud Royal Weekend ke-5 tahun ini, yang terselenggara selama empat hari tiga malam, Kamis(19/7)-Minggu(22/7). Melalui Ubud Royal Weekend diharapkan mampu menampilkan sejarah perjalanan kepriwisataan Ubud, yang tertata sedemikian rupa, ibarat menata bunga dalam pas, sehingga bisa menampilkan keindahan dan dinikmati seutuhnya.

Sementara itu Pakar Marketing Hermawan Kertajaya, Ubud tanpa promosi macam-macam dikunjungi turis dari mana-mana. Malah sekarang jadi macet. Dengan macet dan banyak sampah saja Ubud dikunjungi banyak wisatawan. Ini tiada lain karena taksu Ubud. “Ubud telah mampu menjaga keseimbangan Tri Hita Karana secara seimbang. Inilah sesungguhnya marketing 3.0,” katanya.

Menurut Hermawan, kecintaanya pada Ubud membuatnya seakan menjadi keluarga Puri Ubud. Karena itu, pihaknya merasa berutang kepada Puri Ubud. Lalu dia menggagas sebuah even. Sebab, sebelumnya hampir semua even yang ada di Ubud dilaksanakan orang asing.

Belum ada even yang dilaksanakan orang Indonesia. Maka lahirlah Ubud Royal Weekend ke-1, dihadiri tamu VIP dari Jakarta.  Dengan segala keterbatasan even itu bisa terlaksana. Dan dari tahun ke tahun terus disempurnakan. Dan sejak Ubud Weekend ke-3 mulai diambilalih Puri Ubud. Sekarang sudah yang ke-lima, sudah sepenuhnya dilaksanakan masyarakat Ubud. “Ini semacam transfer managemen. Tahun depan saya hanya sebagai tamu saja,” katanya.

Ubud Royal Weekend merupakan Ubud spirit. Ubud Royal Weekend mampu mempersatukan budaya modern dan tradisional dipersatukan. Ubud tidak tolek modernitas di sisi lain tradisional tetap terjaga.

Katanya, budaya Ubud sangat istimewa. Pariwisata Ubud tidak bisa lepas dari budaya. Budaya dan pariwisata telah menyatu. Ini harus dijaga. Ini kekuatan Ubud, harus terus dijaga.

Sementara itu, Tjokorda Gde Raka Sukawati mengungkapkan, kekuatan pemasaran pariwisata Ubud ada pada marketing 3.0. Itu sebabnya, di areal Museum Puri Lukisan Ubud pada lantai bawah ada Museum Marketing 3,0.

Diakui ada yang salah paham tentang keberadaan Museum Marketing 3.0  itu. Sebab, banyak orang memaknai marketing hanya berorientasi bisnis. Sedangkan marketing sesungguhnya adalah urusan seni, budaya, ilmu dan kepuasan. Marketing 3.0 merupakan perpaduan antara marketing modern yang dipadukan dengan seni, budaya untuk memberi kepuasan kepada konsumen.

Marketing 1.0 orientasi pada produk. Marketing 2.0 adalah servis atau pelayanan. Dalam marketing modern  hanya ada dua, marketing 1.0 dan 2.0. Munculnya marketing 3.0 membuat orang tercengang. Marketing ada campuran seni budaya dan taksu. Hal ini tak lepas dari marketing yang terkait dengan keharmonisan dengan Tuhan. Jika dihubungkan dengan Tri Hita Karana marketing 1.0 adalah keharmonisan dengan Palemahannya (lingkungan), marketing 2.0 keharmonisan dengan Pawongan (orang), sedangkan marketing 3.0 keharmonisan dengan Parhyangan( Tuhan).
(wir).

July 25, 2018

Taksu’ Kekuatan Pariwisata Ubud 

Gianyar (Manggala)-Ubud Royal Weekend merupakan even untuk menapilkan apa yang dimiliki Ubud yang selama ini terselenggara dan menjadi daya tarik wisata. Melalui Ubud Royal Weekend kekayaan […]
July 25, 2018

Klungkung Raih Dua Penghargaan KLA 2018

Semarapura (Manggala)-Pemerintah Kabupaten Klungkung sangat serius dalam menjalankan program pembangunan nasional di bidang pemenuhan hak anak dan perlindungan khusus anak. Dari keseriusan tersebut, Terbukti Pemerintah Kabupaten Klungkung […]
July 20, 2018

Tarik Penonton dengan Tabuh Liar Samas

Buka dengan Tabuh Liar Samas, Sanggar Seni Gita Mahardika Banjar Babakan Sukawati, Gianyar tarik penonton padati kalangan Ayodya Taman Budaya Art Center Denpasar, Rabu (18/7). Tabuh […]
July 20, 2018

Forum Sunda Kecil Pacu Pertumbuhan Ekonomi 

Denpasar (Manggala)-Terbentuknya Forum Sunda Kecil yang terdiri dari Provinsi Bali, Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Provinsi Nusa Tenggara Timur diharapkan akan dapat memacu pertumbuhan ekonomi di […]