custom writing help
Adat & Seni Budaya Archives - Page 11 of 14 - Manggala OnlineManggala Online | Page 11

Adat & Seni Budaya

Gianyar(Mangga)-Tiga hari setelah puncak Ida Bhatara Turun Kabeh di Pura Kahyangan Jagat Samuan Tiga Bedulu, dilaksanakan tradisi Siat Sampian  (Perang Sampian) dengan menggunakan rangkaian janur oleh Parekan (pengayah laki-laki) dan Permas (pengayah perempuan) Rabu (2/5) siang. Ratusan parekan dan puluhan permas saling lempar  dan pukul menggunakan rangkaian janur yang telah disiapkan sebelumnya.

Tradisi sebagai  simbol memerangi adharma atau kejahatan, disaksikan ribuan pemedek bahkan wisatawan asing tampak ikut mengabadikan tradisi itu. Sebagai rangkaian dari piodalan, prosesi Siat Sampian diawali dengan nampyog yakni para permas yang berjalan beriringan mengelilingi halaman madya mandala pura. Para permas berjalan sembari menari-nari dengan gerakan sederhana. Dari prosesi nampyog ini, ada prosesi yang dikenal dengan nama ngober nyambung.

Dalam prosesi ini, pada pinggang permas diikatkan selembar selendang putih. Seledang ini pula yang dikibarkan secara sambung menyambung oleh para permas di barisan berikutnya.

Usai prosesi ngober nyambung, disusul maombak-ombakan, yakni para parekan saling berpegangan satu sama lain mengelilingi halaman pura.

Parekan saling berpegangan berputar selama tiga kali disertai dengan teriakan-teriakan. Mereka pun berusaha agar dapat memegangi bangunan suci yang ada di pura. Prosesi ini disertai dengan tetabuhan yang menambah semangat parekan dan permas untuk memulai Siat Sampian.

Puncaknya, para parekan saling lempar sampian yang sudah disiapkan. Mereka kemudian saling pukul serta melempar sebagai simbol dari perang dengan menggunakan janur selama kurang lebih 15 menit. “Usai Siat Sampian, seluruh parekan masiram di beji yang mempunyai

makna  penyucian diri, “ ungkap Ketua Paruman Pura Samuan Tiga, Wayan Patera. Menurutnya, Siat Sampian hanya boleh diikuti oleh parekan dan permas dimaknai penyucian bhuwana agung dan bhuwana alit yang divisualisasikan pertarungan antara dua kekuatan berbeda yakni kebaikan dan keburukan dan yang menang pada akhirnya adalah kebenaran.

Dipilihnya sampian untuk sarana Siat Sampian, menurut Patera, karena sampian merupakan bagian ujung dari dangsil yang dipersembahkan para parekan.  Selain itu, sampian merupakan lambang senjata milik Dewa Wisnu yang dipergunakan untuk memerangi adharma atau kejahatan dari

muka bumi.(wir).

 

May 3, 2018

Ratusan ‘’ Parekan Mesiat’’ Sampian di Pura Samuan Tiga

Gianyar(Mangga)-Tiga hari setelah puncak Ida Bhatara Turun Kabeh di Pura Kahyangan Jagat Samuan Tiga Bedulu, dilaksanakan tradisi Siat Sampian  (Perang Sampian) dengan menggunakan rangkaian janur oleh Parekan (pengayah […]
January 20, 2018

Ogoh-ogoh 2018 Wajib Bertemakan Bhutakala

Denpasar (Manggala)-Setelah sukses di tahun sebelumnya, dalam rangka menyambut hari suci Nyepi Caka 1940 tahun 2018, Pemkot Denpasar melalui Dinas Kebudayaan Kota Denpasar kembali menggelar lomba […]
December 20, 2017

Upacara Bhumi Sudha di Besakih

Gubernur Bali Made Mangku Pastika menghadiri persembahyangan serangkaian Upacara Bhumi Sudha yang dilaksanakan bertepatan dengan Tilem Sasih Kanem di Pura Pengubengan, Besakih, Senin (18/12). Di sela-sela kegiatan […]
December 18, 2017

Pengukuhan Awig-awig Desa Pakraman Banda

Setelah 9 tahun memperjuangkan pemekaran, Banjar adat Banda menjadi Desa Pakraman  Banda, Kecamatan Banjrangkan, Kabupaten Klungkung akhirnya secara resmi dikukuhkan Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP) Provinsi […]