custom writing help
I Nyoman Alit Sutarya: Budaya Mati dan Mabakti - Manggala OnlineManggala Online

I Nyoman Alit Sutarya: Budaya Mati dan Mabakti

Bupati Giri Prasta Pimpin Gerakan Serentak Badung Bersih 2019
August 21, 2019
Bupati Suwirta Gelar Ramah Tamah Dengan Legislatif
August 21, 2019

I Nyoman Alit Sutarya: Budaya Mati dan Mabakti

Gianyar(Manggalaonline)-Sebagai orang Bali tak akan bisa lepas dari budaya mati dan mabakti. Budaya mati dimplementasikan dalam bentuk upacara Pitra Yadnya. Sedangkan budaya mabakti implementasinya dalam bentuk Panca Yadnya, Manusa Yadnya, Pitra Yadnya, Bhuta Yadnya, Dewa Dawa Yadnya dan Rsi Yadnya. Pelaksanaan yadnya itu adalah swadharma yang dilakukan masyarakat Bali yang diwadahi oleh desa adat.

Menurut Anggota DPRD Gianyar dari Fraksi PDIP, Dapil I Gianyar, I Nyoman Alit Sutarya, S.H., M.H., dari budaya mati dan mabakti masyarakat Bali melaksanakan yadnya-yadnya. Berbagai yadnya yang ada merupakan swadharma masyarakat Bali. Pelaksanaan yadnya ini membedakan Bali dengan daerah lain. “Budaya Bali lahir dari budaya mati dan mabakti tersebut. Dan budaya ini hidup dan dipelihara oleh desa adat,” katanya.

Menurutnya, tidak ada di mana pun prosesi upacara kematian seperti di Bali. Demikian pula, dengan yadnya-yadnya lainnya. Keunikan inilah yang ingin dilihat oleh para turis datang ke Bali, sehingga Bali berkembang pesat sebagai daerah tujuan wisata. Kalau melihat alam di Nusantara ini mungkin tak beda jauh. Tapi mengapa Bali yang selalu dikunjungi wisatawan. Ya, itu karena keunikan budaya Bali. Karenanya pariwisata Bali adalah Pariwisata budaya,” ujarnya.

Desa adat sebagai ujung tombak pelestarian budaya membutuhkan pengorbanan yang cukup besar. Baik tenaga, waktu dan biaya. Karena itu, ke depan perlu perhatian pemerintah yang lebih lagi bagi desa adat.

Selama ini, melalui visi Bupati Gianyar I Made Mahayastra merevitalisasi desa adat cukup bagus. Sudah banyak program dilaksanakan untuk desa adat. Seperti bantuan pembangunan wantilan di pura, jalan dilingkungan desa adat, bangunan palinggih dan penyengker. Bahkan, sampai pelaksanaan upacara agama Dewa Yadnya, Pitra Yadnya (Ngaben Massal)  dan Manusa Yadnya (Masangih Massal) sudah diprogramkan. Menurutnya, ini perlu lagi ditingkatkan lagi untuk memprogramkan pembiayaan piodalan-piodalan di Pura Kahyangan Tiga di tiap desa adat. “Sebagai kader PDIP, saya sangat setuju itu diprogramkan. Jika itu diprogramkan saya sangat mendukung,” tegasnya.

Menurutnya dengan pembiayaan piodalan Pura Kahyangan Tiga tiap desa adat, tak banyak akan menguras APBD. Terlebih APBD Gianyar yang cukup signifikan, dan memungkinkan untuk itu. Misalnya, jika tiap desa adat dengan tiga pura dianggarkan Rp 150 juta per tahun. Jumlah desa adat di Gianyar sebanyak 272 desa adat. Tiap tahun hanya butuh Rp 4,08 milyar. “Tidak besar untuk APBD Gianyar yang sudah Rp 2,6 triliun. Tapi manfaatnya tepat sasaran dan dirasakan masyarakat.,” katanya.

Katanya, Bali dan Gianyar khususnya suka atau tidak sudah bertumpu pada sektor pariwisata. Kekuatan pariwisata Bali didukung pelestarian budaya oleh desa adat. Karena itu, desa adat layak menjadi perhatian, jika ingin pariwisata Gianyar berjalan berkesinambungan. “Jangan sampai keburu desa adat ngambul. Karena kesulitan biaya melestarikan budaya yang selama ini dilakukan,” pungkasnya. (wir).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *