custom writing help
May 2019 - Manggala OnlineManggala Online

Pagi Senin(27/5), Ir. I Nyoman Buana tampak santai, di rumahnya yang berlokasi Jalan Hanoman Nomor:3 Ubud, tepat di tengah hirukpikuk berseliweran para turis jalan-jalan menikmati panorama destinasi pariwisata Ubud. Tapi kali ini dia tak seperti biasanya. Pukul 09.00 wita, masih di rumah, dia hanya mempersiapkan diri menghadiri undangan seminar tentang pariwisata. “Sejak saya pensiun sebagai Manajer Monkey Forest, hidup lebih santai. Sekarang saya akan menghadiri seminar pariwisata di Denpasar,” ujarnya.

Kalau mengikuti umur karyawan Monkey Forest, paling tinggi 56 tahun. Tahun lalu semestinya dia sudah pensiun, namun karena permintaan desa pakraman diperpanjangan lagi satu tahun. Dan akhirnya dia baru bisa pensiun 18 Mei 2019. 

Bapak dua anak ini mulai menjabat Manejer Monkey Forest sejak 1 April 2014. Saat itu, pengelolaan Monkey Forest masih dikelola secara tradisional. Menyadari mengelola obyek wisata milik desa pakraman yang belum punya aturan, akan banyak menghadapi kesulitan dan banyak ewuh pekewuh. Tentu pola kepemimpinan usaha seperti ini tak akan bermanfaat banyak bagi sebuah usaha atau lembaga. Karena itu, mengawali menjabat dia membuat peraturan. Peraturan diberi nama “Mandala Suci Wenara Wana” Peraturan ini berisi tentang tata tertib karyawan, cara rekrutmen karyawan, cuti karyawan bahkan pensiun. Peraturan  bertujuan agar karyawan disiplin. “Saya yakin sebuah perusahan akan maju jika didukung oleh karyawan yang professional dan disiplin,” katanya.

Dalam melaksanakan aturan awalnya memang tidak berjalan mulus. Banyak tantangan dan hambatan yang dihadapi. Maklum, sebelumnya memang lebih bebas, kemudian diatur akan mengesankan dirinya terlalu mengada-ada. Banyak karyawan yang meboya. Walau begitu, dia tak lemah terapkan aturan itu. Dia yakin lebih baik ada aturan yang diikuti, daripada hanya berdasarkan rasa, sehingga tidak akan baik bagi kemajuan pengelolaan Monkey Forest yang terus ada dalam persaingan.

Monkey Forest adalah obyek wisata yang dimiliki Desa Pakraman Padangtegal. Sebelum ada peraturan Mangdala Suci Wenara Wana rekrutmen karyawan kurang memenuhi kaidah. Dengan peraturan itu,   rekrutmen karyawan dilaksanakan secara profesional, walau tetap karyawan direkrut dari karma desa pakraman. Dalam perekrutan karyawan Monkey Fores, dari empat tempekan  yang ada di Desa Pakraman Padang Tegal, masing-masing dijatah sama. Jika ada yang lebih diundi. Tiap calon karywan harus melalui proses seleksi yang dilakukan tim yang dibentuk bendesa atau  prajuru desa pakraman dan tim pansel dari pihak ke tiga. Untuk seleksi administrasi, dilaksanakan tim seleksi yang dibentuk bendesa atau prajuru desa pakraman. Sedangkan seleksi bakat dan minat dilaksanakan pihak ke tiga. Sedangkan untuk wawancara dilaksanakan tim seleksi yang dibentuk prajuru desa pakraman dan tim seleksi dari pihak ke tiga. “Dengan cara seperti itu akan kita dapatkan karyawan dengan SDM yang lebih baik,” katanya suami Ni Nyoman Yasi ini.

Menurut laki-laki tamatan Fakultas Pertanian Unud 1988 ini, karyawan yang professional dan disiplin sangat penting untuk menghadapi tantangan persaingan obyek wisata ke depan. Karena, obyek wisata akan terus tumbuh. Terlebih obyek wisata yang berbasis binatang di Bali tumbuh cukup pesat. Yang berbasis binatang kera saja jumlahnya ada tiga pesaing sekarang ini. Belum lagi ada Bali Zoo, Taman Safari Marine Park, Gajah, Kupu-kupu dan lainnya. “Usaha pariwisata yang terpenting pelayanan. Monkey Forest selama ini telah mampu memberikan pelayanan yang baik kepada turis yang datang,” katanya.

Bukti Monkey Forest masih menjadi tujuan wisata yang cukup diminati, tiap tahun kunjungan terus meningkat, seiring peningkatan kunjungan wisatawan ke Bali. Hal ini juga karena didukung oleh Ubud yang sudah merupakan destinasi pariwisata dunia. Selama kepemimpinannya lima tahun, target pendapatan Monkey Forest terus tercapai. Demikian pula pajak yang diterima Pemda Gianyar terus bertambah.

Di samping itu, obyek wisata Monkey Forest, telah mampu memperluas daerah jelajah kera. Yang awalnya Monkey Forest luasnya 12,5 ha, dihuni kurang lebih 827 ekor, sekarang berhasil ditambah lagi 8,4 ha, walau sekarang menjadi lahan parkir. Juga dengan peningkatan pendapatan berbagai infrastruktur dibangun untuk menunjang kenyamanan pengunjung Monkey Forest, selain membiayai berbagai kegiatan karma desa pakraman.

Di tengah masa pensiun,  dia berharap apa yang sudah baik bisa diperahankan. Dan apa yang belum baik berusaha agar bertambah baik. Dengan demikian, diharapkan Monkey Forest yang menjadi asset Desa Pakraman Padangtegal tetap mampu memberilkan layanan yang terbaik bagi pengunjung. “Saya berharap apa yang ada sekarang ini terus ditingkatkan, sehingga Monkey Forest akan tetap menjadi obyek yang layak dikunjungi sekarang dan di masa depan,” pungkasnya. (wir).  Ir. I Nyoman Buana,

May 28, 2019

Ir. I Nyoman Buana Kelola Monkey Forest Dari Manajemen Tradisional Jadi Profesional

Pagi Senin(27/5), Ir. I Nyoman Buana tampak santai, di rumahnya yang berlokasi Jalan Hanoman Nomor:3 Ubud, tepat di tengah hirukpikuk berseliweran para turis jalan-jalan menikmati panorama […]
May 28, 2019

BPJS Kesehatan Tetap Layanani Saat Libur Lebaran

Gianyar(Manggalaonline)-Badan Penyelenggara Jaminan Sosial(BPJS) Jaminan Kesehatan Nasional(JKN) tetap beri pelayanan saat libur Lebaran, dari tujuh hari sebelum hari Lebaran sampai tujuh hari setelah hari Lebaran( Rabu(29/5) […]
May 21, 2019

Cortez CT & Confero S ACT, Dua Varian Produk MPV Terbaru Wuling Kini Dipasarkan di Bali

Denpasar (Manggalaonline)- Wuling berkolaborasi dengan PT Hanawa Mobilindo Utama dan PT Kumala Cemerlang Abadi selaku mitra diler di Pulau Bali memperkenalkan dua varian baru dari MPV […]
May 21, 2019

Ramaikan Pameran Mobil Antik PPMKI, Ratusan Mobil- Motor “Tumplek Blek” di Lapangan Renon

Denpasar (Manggalaonline) – Puluhan klub mobil  dan motor wilayah Bali  memeriahkan event  Pameran Mobil Antik Bersama Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno (PPMKI) Bali bertemakan  “ Kami Cinta  […]