custom writing help
BPT dan RPO Siap Hadapi Eksplosif Serangan OPT Perkebunan - Manggala OnlineManggala Online

BPT dan RPO Siap Hadapi Eksplosif Serangan OPT Perkebunan

Bupati Ajak Masyarakat Badung Tingkatkan Gotong-Royong
May 4, 2018
Gubernur Buka BBGRM Prov Bali XV Tahun 2018 
May 4, 2018

BPT dan RPO Siap Hadapi Eksplosif Serangan OPT Perkebunan

Organisme PenggangguTanaman (OPT) merupakan faktor pembatas produksi tanaman pertanian. Secara garis besar OPT dibagi menjadi tiga bagian yaitu hama, penyakit dan gulma. Petani saat ini mengatasi masalah OPT masih bergantung dengan pestisida anorganik, memang mampu menekan kehilangan hasil akibat serangan OPT. Tetapi cara ini menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan.

Dewasa ini tuntutan terhadap keamanan produk pertanian juga semakin besar. Penerapan teknologi pertanian yang berwawasan lingkungan harus mendapat perhatian dari semua pihak sebagai landasan pembangunan pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture development) dan berwawasan lingkungan. Pola pembangunan pertanian seperti ini selain harus dapat memelihara tingkat produksi juga harus mampu mengurangi dampak kegiatan pertanian yang dapat menimbulkan pencermaran dan penurunan kualitas lingkungan hidup.

Penerapan Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) sebagai dasar kebijaksanaan perlindungan tanaman dari serangan OPT menganut empat prinsip dasar yaitu membudidayakan tanaman sehat, memanfaatkan sebesar-besarnya musuh alami, melakukan pengamatan rutin serta petani menjadi ahli PHT di kebunnya sendiri. Seperti disampaikan Kepala UPT.Laboratorium Perlindungan Tanaman Perkebunan pada DinasTanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bali, Ir. Anang Priyono, M.Sc., pada pelaksanaan Bimbingan Teknis bagi 10 orang petugas Brigade Proteksi Tanaman (BPT) dari 8 (delapan) Kabupaten se Bali serta 40 orang Regu Pengendali OPT (RPO) dari Kabupaten Tabanan di UPT. Laboratorium Perlindungan Tanaman Perkebunan Provinsi Bali, Banjar Mas, Desa Bedulu, Kec. Blahbatuh, Kab. Gianyar, belum lama ini.

Bimtek BPT dan RPO dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas SDM baik bagi petugas maupun petani di bidang perlindungan tanaman. Mengacu pada UU No.  12/1992  tentang sistem budidaya tanaman, bahwa pada dasarnya perlindungan tanaman merupakan tanggung jawab masyarakat/petani dan pemerintah turun tangan bila petani tidak mampu mengatasi karena eksplosif. Petani sebagai pemilik lahan berkewajiban mengendalikan gangguan OPT di lahannya, segala tindakan dan usaha perlindungan menjadi tanggung jawab masyarakat.

Sementara pemerintah berkewajiban memotivasi agar petani menyadari, mau dan mampu melaksanakan sistem perlindungan tanaman secara efektif, efisien dan aman.

Upaya tersebut harus dilakukan secara terus menerus melalui penyuluhan dan bimbingan serta penyediaan teknologi  pengendalian yang tepat guna. Pendistribusian sarana pengendalian merupakan faktor yang sangat menentukan keberhasilan pengendalian.

Brigade Proteksi Tanaman ( BPT ) menjadi unit khusus pelaksana pengendalian yang mempunyai tugas pokok membantu petani dalam pengendalian OPT di daerah sumber serangan dan daerah yang mengalami eksplosif serangan OPT. Dalam pelaksanaannya BPT dapat dibantu oleh Regu Pengendalian OPT (RPO)/ petani setempat. Peran BPT di lapangan sangat penting dalam mengambil/menentukan langkah operasional pengendalian untuk mengatasi kondisi tertentu terutama pada daerah yang permasalahan OPT nya belum dapat diatasi oleh petani secara mandiri.

Kepala DinasTanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bali, Ir. Ida Bagus Wisnuardhana, M.Si., merasa optimis jajarannya beserta BPT dan RPO yang telah dibentuk siap menghadapi eksplosif serangan OPT Perkebunan di Provinsi Bali. (ning).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *