custom writing help
Ni Wayan Silawati: Lampu Kuning’’ Pengangguran di Bali - Manggala OnlineManggala Online

Ni Wayan Silawati: Lampu Kuning’’ Pengangguran di Bali

Hanura Gianyar Usung Paket Aman
December 27, 2017
Rossa Hibur dan Sumbang Pengungsi di GOR Kubu
January 3, 2018

Ni Wayan Silawati: Lampu Kuning’’ Pengangguran di Bali

Dalam kesehariannya sosok wanita keliharan 25 Januari 1974 ini sangat familiar dan suka guyon. Ia pun antusias jika berbicara  soal keluarga terutama hubungannya yang sangat dekat dengan buah hatinya. Menjadi teman bagi anak-anak, mengasyikkan, dan momen berharga dalam kehidupannya.

Tak jarang jika anaknya mempunyai masalah ia yang menjadi teman curhatnya. Ibu tiga anak yang  beralamat di Desa Tambarana, Kecamatan Poso pesisir Utara Kabupaten Poso itu lebih jauh mengemukakan, menjadi ibu itu sesungguhnya mengasyikkan. Bisa berbagi berbagai hal dengan anak-anak terutama dengan anaknya yang telah dewasa.

Kedekatan dengan anak bisa memudahkan ibu memantau pergaulannya,mendidiknya dan membangun perkembangan jiwanya.”Anak-anak saya memiliki hobi menari dan menabuh.Jika ada kegiatan keagamaan di Pura anak-anak pasti menabuh dan menari,” tutur ibu tiga anak yang kesehariannya berjualan alat-alat kebutuhan rumah tangga bagi masyarakat di Sulawesi tepatnya di Kabupaten Poso itu. ” Anak-anak pun tidak merasa enggan memaparkan berbagai pengalaman dan masalahnya,’demikan Ni Wayan Silawati yang lebih akran dipanggil ibu Putu.

Cara yang ia terapkan dalam mendidik anak-anak dalam keluarganya,layak pula dianut para ibu lainnya. Memang dalam hal tertentu,misalnya tentang pekerjaan,soal keluarga,tetap ada batasan. Namun khusus untuk hubungan antara orang tua dan anak-anak usahakan bebas saja.”Saya tidak saklek yang terpenting komunikasi terjalin terus”,ungkap Ni Wayan Silawati. Ia pun menegaskan setiap orang tua tidak boleh mengabaikan yang namanya pendidikan anak-anak sebab, pendidikan sangat penting bagi terciptanya masyarakat yang sejahtera.”Dengan demkian pendidikan bagi anak-anak mestinya mendapat perhatian serius kalangan orang tua,”ungkapnya.

Lalu bagaimana pandangannya tentang Pulau Bali kedepan?                                                           Pandangannya tentang Bali kedepan menurutnya yakni pengangguran. Ia melihat ihwal kecenderungan makin besarnya jumlah pencari kerja. Tahun lalu saja, angka pengangguran terbuka hampir mencapai angka  750 jiwa malahan terus meningkat.Jumlah ini setara dengan 4,8 persen  dari total populasi pendudukan Bali yang lebih dari 3 juta. Pada hal, suatu daerah jika sampai memiliki angka pengangguran lebih dari 5 persen dari total penduduk Bali itu artinya sangat parah. Dengan kata lain,problem pengangguran di Bali bisa dibilang dalam posisi lampu kuning menjelang lampu merah. Ini berbahaya  dan bagi pemimpin Bali kedepan harus ada solusi kongkrit buat mengatasinya

Sisi yang lain menurut Ni Wayan Silawati yang perlu pendapat perhatian yakni menurunnya apresiasi kalangan Remaja terhadap penalaran nilai-nilai budaya tradisional. Hal ini untuk daerah Bali yang mengandalkan perolehan penerimaan daerah dari sektor pariwisata budaya, maka fenomena ini patut menjadi perhatian semua pihak terlebih pemimpin Bali kedepan. Ni Wayan Silawati menyebutkan kehadiran turis asing dengan kulturnya, menjadi faktor yang bisa mengkikis apresiasi kalangan remaja terhadap warisan kultur atau budaya lelulur. Asimilasi tak mungkin bisa dihindari. Masuknya pengaruh atau budaya asing tak bisa dibendung”. Mohon maaf itu sama sekali bukan pembenaran untuk mengesampingkan budaya luhur kita sendiri”katanya.

Ni Putu Silawati juga mengingatkan ihwal budaya lelulur yang justru dikagumi masyarakat internasional. Masyarakat dunia berbondong-bondong datang ke Bali itu antara lain karena keunikan budaya kita. Jadi kalau diri kita sendiri tidak melestarikan,atau malah meniru-niru budaya asing lantas apa yang menjadi daya tarik kita? Dikatakan menghargai warisan budaya lelulur bukan dalam artian mengagung-agungkan semangat kedaerahan.Jangan keliru tafsir.Upaya melestarian budaya lokal harus senantiasa dalam bingkai kesadaran Bhineka Tunggal Ika. Justru itu kekuatan kita. ”Itu keunikan Indonesia termasuk Bali di dalamnya,”papar Ni Wayan Silawati. Menyinggung keterpurukan ekonomi Bali pasca terjadinya erupsi Gunung Agung, ia yang aktif diberbagai organisasi kemasyarakatan itu mengatakan, memang sangat riskan apabila Bali hanya mengandalkan sektor pariwisata tanpa mengandalkan sektor lainnya. Contoh nyata bisa dilihat di masyarakat, pertanian mulai ditinggalkan,hanyalah sebagai komoditas pelengkap. Kerajinan yang sesungguhnya sangat potensial belum digarap sebagaimana mestinya.Belum ada tindakan serius terutama yang berorientasi ekspor. Produk pertanian beserta turunannya,dengan mengandalkan kemajuan teknologi serta teknik marketing zaman sekarang akan mempunyai prospek cerah. Lagi-lagi ini memang berkaitan dengan pariwisata.

Sektor ini akan bisa mandiri kalau sewaktu-waktu pariwisata mengalami masalah.Untuk itu sarannya,pemerintah beserta elemen masyarakat Bali sudah selayaknya dengan serius menggalai potensi di luar pariwisata. Potensi kreatif generasi muda dikombinasikan dengan pengalaman para senior misalkan ditopang bantuan pemerintah tentunya akan memunculkan produk unggulan yang memiliki daya saing. Industri kreatif dengan segala inovasinya akan bisa mmunculkan ruang gerak baru para usahawan muda.Kalangan usahawan muda ini tentunya diberikan ruang dan waktu untuk menemukan serta berkreasi sembari menunggu iklim pariwisata membaik dan kondusif.Dengan demikian sektor sektor yang lain akan mengikutinya dan sebagai penggantinya.”Jika ilkim ini bisa diciptakan pada saat normal keduanya akan bisa saling melengkapi,” ungkapnya.(pab)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *