custom writing help
Pengolahan Biji Kopi Dapat Tingkatkan Kuaslitas Harga Jual - Manggala OnlineManggala Online

Pengolahan Biji Kopi Dapat Tingkatkan Kuaslitas Harga Jual

Bupati Suwirta Monitoring Proyek Pembangunan di Nusa Penida
October 30, 2017
Status Gunung Agung Turun Menjadi Level III Siaga
October 30, 2017

Pengolahan Biji Kopi Dapat Tingkatkan Kuaslitas Harga Jual

Kopi juga merupakan salah satu tanaman perkebunan potensial di Provinsi Bali. Kopi tidak hanya berperan penting sebagai sumber devisa melainkan juga merupakan sumber penghasilan bagi tidak kurang dari satu setengah juta jiwa petani kopi di Indonesia (Rahardjo, 2012).

Keberhasilan agribisnis kopi membutuhkan dukungan semua pihak yang terkait dalam proses produksi kopi pengolahan dan pemasaran komoditas kopi. Upaya meningkatkan produktivitas dan mutu kopi terus dilakukan sehingga daya saing kopi di Indonesia dapat bersaing di pasar dunia (Rahardjo, 2012).

Teknologi budidaya dan pengolahan kopi meliputi pemilihan bahan tanam kopi unggul, pemeliharaan, pemangkasan tanaman dan pemberian penaung, pengendalian hama dan gulma, pemupukan yang seimbang, pemanenan serta pengolahan kopi pasca panen. Pengolahan kopi sangat berperan penting dalam menentukan kualitas dan cita rasa kopi (Rahardjo, 2012).

Saat ini peningkatan produksi kopi di Bali masih terhambat oleh rendahnya mutu biji kopi yang dihasilkan sehingga mempengaruhi mutu biji kopi yang dihasilkan sehingga mempengaruhi pengembangan produksi akhir kopi. Hal ini disebabkan, karena penanganan pasca panen yang tidak tepat antara lain proses fermentasi, pencucian, sortasi, pengeringan dan penyangraian. Selain itu spesifikasi alat dan mesin yang digunakan juga dapat mempengaruhi setiap tahapan pengolahan biji kopi.

Untuk memperoleh biji kopi yang bermutu baik diperlukan penanganan pasca panen yang tepat dengan melakukan setiap tahapan secara benar. Proses pengeringan merupakan salah satu tahapan yang penting dalam pemrosesan biji kopi untuk menghasilkan biji kopi yang berkualitas.

Rumusan Masalah

 Proses penanganan pasca panen dan pengolahan biji kopi perlu memperhatikan berbagai aspek yang dapat mempertahankan kualitas biji kopi tersebut terhadap harga jual kopi. Salah satu hal terpenting yaitu pada proses pengolahan biji kopi. Kualitas biji kopi dapat ditingkatkan bila proses pengolahan dilakukan pada biji kopi tepat untuk mendapatkan kadar air dan tingkat keasaman yang sesuai dengan standar SNI dan mampu bersaing dipasar.Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara pengolahan biji kopi yang tepat dan benar untuk meningkatkan kualitas dari biji kopi dan dapat meningkatkan harga jual kopi.Kopi merupakan salah satu jenis tanaman perkebunan yang sudah lama dibudidayakan dan memiliki nilai ekonomis yang lumayan tinggi. Konsumsi kopi dunia mencapai 70% berasal dari spesies kopi arabika dan 26% berasal dari spesies kopi robusta. Kopi berasal dari Afrika, yaitu daerah pegunungan di Etopia. Namun, kopi sendiri baru dikenal oleh masyarakat dunia setelah tanaman tersebut dikembangkan di luardaerah asalnya, yaitu Yaman di bagian selatan Arab, melalui para saudagar Arab (Rahardjo,2012).

Kopi robusta biasanya digunakan sebagai kopi instant atau cepat saji. Kopi robusta memiliki kandungan kafein yang lebih tinggi, rasanya lebih netral, serta aroma kopi yang lebih kuat. Kandungan kafein pada kopi robusta mencapai 2,8% serta memiliki jumlah kromosom sebanyak 226 kromosom. Produksi kopi robusta saat ini mencapai sepertiga produksi kopi seluruh dunia (Anonim, 2012). Biji kopi memiliki kandungan yang berbeda baik dari jenis dan proses pengolahan kopi. Perubahan ini disebabkan karena adanya oksidasi pada saat proses enyangraian. Komposisi biji kopi arabika dan robusta sebelum dan sesudah disangrai (% bobot kering).

Bubuk Kopi

Secara garis besar pengolahan buah kopi berdasarkan cara kerjanya dapat dibedakan menjadi dua cara yaitu pengolahan dengan cara basah (West Indischee Bereding) dan cara kering (Ost Indischee Bereding) (Ridwansyah, 2003). Perbedaan pokok dari kedua cara tersebut adalah pada pengolahan secara kering, pengupasan daging buah, kulit tanduk dan kulit ari dilakukan setelah kering (kopi gelondong), sedangkan pengolahan secara basah, pengupasan daging buah dilakukan sewaktu kopi masih basah.

Kendala yang dihadapi dalam orientasi ekspor oleh petani kopi adalah kemampuan subak abian belum optimal dalam memproduksi kopi baik secara kualitas maupun kuantitas. Berkaitan dengan kualitas yang menjadi permasalahan adalah teknik pengolahan dimana dianggap pengolahan secara basah memerlukan biaya pengolahan yang tinggi dibandingkan pengolahan secara kering sehingga masyarakat masih memilih pengolahan kopi secara kering dimana proses pengolahan kopi secara kering memiliki kualitas yang lebih rendah. Namun di sisi lain, pengolahan kopi secara basah memiliki kualitas yang lebih baik dan nilai jual yang lebih tinggi.

Pengolahan Kopi

Metode  pengolahan seperti apa yang tepat diterapkan untuk mengolah kopi di Tabanan. Metode yang digunakan adalah dengan rasa fruity  yang dihasilkan dari kopi yang diolah dengan cara kering, tetapi untuk mendapatkan potensi aroma pada kopi sehingga keluar optimal dan itu dapat terjadi melalui proses basah. Setelah menerapkan beberapa metode pengolahan maka dapat anjurkan dengan  menerapakan metode basah. Dalam hal ini sulit membedakan antara proses kering (dry) dengan proses basah (wash) dalam segi substansialnya, sehingga penerapan metode pengolahan terasa meraba-raba. Mungkin petani kopi yang ada di kabupaten Tabanan, masih dalam tahap mencoba dalam metode pengolahan pasca panen yang tepat untuk kopi.

Adapun tahapannya adalah sebagai berikut :  Biji kopi dikeringkan untuk menjaga dan menstabilkan kualitas rasa dan aroma yang dimilikinya. Secara garis besar terdapat dua metode utama pengolahan kopi, metode basah (wash) dan metode kering (Dry). Metode pengolahan basah prinsip utamanya pemisahan biji dengan daging dan kulit buah yang dikenal dengan proses pulping sebelum biji tersebut dikeringkan atau difermentasi. Metode pengolahan kering (Dry) mengacu pada metode dimana biji kopi dikeringkan secara langsung dengan kulit dan daging buah.

Pemilihan penerapan mana yang akan kita terapkan sebaiknya mengacu pada perhitungan ekonomi. Biji kopi yang diproses dengan metode basah biasanya dihargai lebih mahal dari biji kopi yang dihasilkan dari proses kering. Namun proses basah menuntut ongkos lebih tinggi dibandingkan pengolahan kering. Selain itu umumnya di Negara kita pengolahan basah lebih identik dengan kopi arabika dan pengolahan kering identik dengan kopi robusta. Mungkin masalah harga kedua jenis kopi ini menjadi penentu pilihan metode pengolahan yang digunakan. Harga kopi arabika ditingkat petani 150%-300% lebih mahal dari harga kopi robusta, sehingga penerapan metode basah pada kopi arabika dianggap tidak memberatkan. Bayangkan bila pada kopi robusta dilakukan proses yang sama, sedangkan harga robusta ditingkat petani hanya mencapai Rp. 23.700,-/kg berat keringnya.

Modal biaya untuk pengolahan basah dinilai tinggi. Biaya yang mahal terutama untuk pembelian mesin dan pembangunan instalasi pengolahan. Pengolahan basah menuntut adanya pulper, kalau anda membeli pulper kayu buatan Medan biasanya investasi awalnya Rp. 450.000,- harganya jauh lebih murah dibandingkan harga pulper buatan pabrik yang terbuat dari bahan besi dengan merek “Kopi King” yang bisa mencapai Rp.2.400.000,- . Setelah itu dibutuhkan pula infestasi untuk pembuatan instalasi pengolahan yang minimalnya terdiri dari bak fermentasi yang  biasanya terbuat dari beton, instalasi pencucian biji kopi dan instalasi pengeringan.

Biaya operasional pada proses basah juga dinilai tinggi. Buah kopi segar (gelondongan) yang bisa dipulper hanyalah buah yang matang, sehingga dibutuhkan proses panen yang selektif. Selain itu, pemisahan gelondongan mutlak dilakukan bila buah kopi terserang hama dan penyakit (harga menjadi murah).

Dalam metode proses kering itu juga murah. Walaupun gelondongan tidak perlu di pulper, namun resiko pengolahan yang sangat tinggi akan terasa saat proses pengeringan. Kandungan gula dan protein yang tinggi pada daging buah kopi menyebabkan jamur dan bakteri cepat berkembang. Bila selama proses pengeringan tidak mendapatkan panas matahari yang cukup,  maka masalah pengendalian jamur akan sulit diatasi. Akibatnya kualitas biji kopi yang dihasilkan sangat buruk.

Ada perbedaan mendasar dari rasa kopi yang dihasilkan dari dua proses ini. Proses basah menghasilkan secangkir kopi yang lembut, aroma lebih kuat, body  ringan, aftertaste lebih berkesan dan  acidity lebih tinggi. Kopi yang dihasilkan dari proses kering biasanya unggul dalam body, floral, lebih pahit, acidity rendah. Jadi, proses pengolahan yang lebih bagus adalah proses basah karena pasar kopinya jelas.

 Rasa kopi

Ada perbedaan mendasar dari rasa kopi yang dihasilkan dari dua proses ini. Proses basah menghasilkan secangkir kopi yang lembut, aroma lebih kuat, body  ringan, aftertaste lebih berkesan dan  acidity lebih tinggi. Kopi yang dihasilkan dari proses kering biasanya unggul dalam body, floral, lebih pahit, acidity rendah.Jadi, proses pengolahan yang lebih bagus adalah proses basah karena pasar kopinya jelas. Namun bila ada beberapa pedagang dengan permintaan biji kopi yang diproses dengan metode kering maka harus dipenuhi. Yang terpenting adalah pasar dan ujung-ujungnya pasar adalah uang. Konsumen puas Petanipun ikut senang. (Oleh: I Made Sudana-APHP Pelaksana Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bali)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *